Showing posts with label Sejarah rumah rakit. Show all posts
Showing posts with label Sejarah rumah rakit. Show all posts

Tuesday, October 23, 2018

Sejarah rumah di atas air (rumah rakit) desa cinta jaya,kec pedamaran,kab oki SUMSEL.

Sejarah rumah di atas air (rakit)
Desa cinta jaya kec pedamaran kab OKI SUMSEL

Kampung di Atas Rakit,
  Menyusuri Sungai Babatan di Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering 
Ilir, Sumatera Selatan, menggunakan sampan sungguh menyenangkan. 
  Di tepi sungai berjejer menyerong ratusan rumah yang disebut rumah rakit. 
Sepintas, rumah-rumah tersebut tampak biasa saja. Namun, setelah diperhatikan 
secara saksama, baru disadari bahwa rumah-rumah tersebut mengapung di sungai 
menjadi satu ikatan kampung di atas sungai.
  Kumpulan rumah rakit itu telah berkembang menjadi sebuah desa yang diberi 
nama Desa Cinta Jaya. Saking banyaknya rumah rakit di desa tersebut, kebanyakan 
orang mengenal Desa Cinta Jaya sebagai desa "rumah rakit".
  Sebenarnya rumah rakit juga dapat ditemui di Palembang, yaitu di sekitar 
Jembatan Ampera dan sepanjang Sungai Musi, tetapi jumlahnya tidak sebanyak di 
Cinta Jaya.
  Bentuk rumah rakit hampir semuanya mirip, yaitu atap seng berbentuk limas 
dengan dinding kayu. Pemilihan atap seng ada alasannya, supaya bobot rumah 
menjadi ringan. Rumah-rumah rakit itu juga memiliki beranda dan "halaman" depan 
yang biasanya digunakan untuk menjemur kerupuk dan menambatkan perahu.
  Bagian dalam rumah rakit biasanya terdiri dari ruang tamu, ruang tengah yang 
berfungsi ganda sebagai ruang makan dan ruang keluarga, dua kamar tidur, dan 
dapur, sedangkan jamban terletak di belakang rumah terpisah dari rumah rakit. 
Rumah rakit tidak menggunakan pilar satu pun. Supaya tidak hanyut, beberapa 
rumah rakit diikat jadi satu, lalu diikat dengan tambang ke pohon kelapa yang 
tumbuh di tepi sungai.
  Persoalan yang dihadapi, warga mulai enggan tinggal di rumah rakit. 
Penyebabnya, biaya perawatan rumah rakit mahal. Harga bambu yang menjadi 
komponen utama rumah rakit terus melonjak. Tinggal di rumah rakit tak lagi 
ekonomis.
  Untuk menelusuri sejarah rumah rakit di Desa Cinta Jaya, salah satu sumber 
yang akurat adalah sesepuh desa tersebut, yaitu Kiagus H Abdul Roni (84). 
Meskipun sudah berusia lanjut, Abdul Roni masih tampak segar bugar. Pendengaran 
maupun bicaranya masih jelas.
  Abdul Roni mengisahkan, pada awalnya Desa Cinta Jaya bukan kampung, tetapi 
hanya terdiri atas beberapa rumah rakit yang mulai didirikan sekitar tahun 
1904. Para pendiri rumah rakit adalah penduduk Palembang yang kerap berdagang 
melalui Sungai Babatan. Sungai itu merupakan penghubung antara Palembang, Ogan 
Komering Ilir, dan Lampung.
  Lama-kelamaan kumpulan rumah rakit itu menjadi perkampungan. Sebelum tahun 
1950, perkampungan itu bernama Pedamaran I Rakit, kemudian berubah menjadi Desa 
Cinta Jaya. "Nama Cinta Jaya diusulkan oleh warga. Cinta artinya setiap orang 
yang datang ke sini enggan pulang, lalu mereka menemukan kejayaan di sini," 
kata Abdul Roni.
  Menurut Abdul Roni, dulu warga Desa Cinta Jaya yang keturunan Palembang tidak 
akur dengan warga Pedamaran yang tinggal di seberang sungai. Warga Desa Cinta 
Jaya menjadi komunitas eksklusif. Kaum perempuan dipingit sejak remaja sampai 
menikah dan terlarang dinikahi laki-laki Pedamaran.
  Baru pada tahun 1960-an terjadi perkawinan campuran antara warga Cinta Jaya 
dan warga luar, termasuk warga Pedamaran. Interaksi semakin intens ketika 
dibangun jembatan yang menghubungkan Cinta Jaya dengan Pedamaran.
  Perbedaan latar belakang budaya dan profesi diduga menyebabkan kedua 
komunitas tersebut tidak akur. Warga Pedamaran umumnya petani, sedangkan warga 
Cinta Jayaumumnya pedagang.
  Sampai sekarang nama-nama warga Cinta Jaya masih menggunakan nama gelar 
kebangsawanan Kesultanan Palembang, seperti raden, masagus, kemas, dan kiagus 
untuk laki-laki dan raden ajeng, masayu, nyimas, dan nyayu untuk perempuan. 
Sebagian besar warga Cinta Jaya sekarang berprofesi sebagai pembuat kerupuk dan 
petani karet.
  Saat ini Abdul Roni adalah satu-satunya saksi hidup yang mengalami masa 
kejayaan rumah rakit. Pada tahun 1970-an, jumlah rumah rakit mencapai 300-an, 
sekarang merosot tinggal 100-an karena mahalnya biaya merawat rumah rakit.
  "Dulu semua rumah rakit diikat jadi satu supaya kuat. Dari ujung ke ujung 
panjangnya dua kilometer. Kita bisa naik sepeda dari ujung ke ujung. Bahkan ada 
pasar terapung di sungai, tapi sekarang tidak ada lagi," kata Abdul Roni 
mengenang masa lalu.
  Meski menjadi sesepuh, Abdul Roni tak kuasa mempertahankan rumah rakitnya dan 
harus mengalah pada tuntutan ekonomi. Dua tahun lalu Abdul Roni terpaksa 
membongkar rumah rakitnya dan mendirikan rumah di atas tanah tak jauh dari 
bekas lokasi rumah rakitnya.
  Kemas Abdurohim (72), mantan perangkat Desa Cinta Jaya, membenarkan asal-usul 
desa rumah rakit tersebut adalah orang-orang Palembang. Akan tetapi, semakin 
banyak warga yang membongkar rumah rakitnya lalu membangun rumah di darat. 
   
  Sumber: Kompas